hantu penunggu bis
Hai, perkenalkan
namaku ardy wisesa biasa dipanggil ardy tapi terserah mau dipanggil apa saja karena
itu gak penting. Di postingan teman ku ini aku akan menceritakan kisah nyata
yang ku alami pada pertengahan november tahun kemarin tepatnya 2015
Aku sedang dalam perjalanan ke rumah dengan bis malam.
Kulihat seorang kakek tua naik dan menawarkan buku-buku pada penumpang. "bukunya nak?
Aku sedang dalam perjalanan ke rumah dengan bis malam.
Kulihat seorang kakek tua naik dan menawarkan buku-buku pada penumpang. "bukunya nak?
Ada macam
macam nih silat, agama, cinta-cinta pokoknya banyak dek" ujar si kakek.
Aku yang sedang tak bisa
tidur pun tertarik. "ada buku horor gak kek?" tanyaku. "oh suka
cerita horor ya?
Kebetulan sisa
satu, pas lagi ceritanya tentang bis yang ditinggali banyak arwah penasaran
judulnya "hantu penunggu bis" seram
pokoknya" ujarnya.
boleh juga tuh, berapa harganya?" tanyaku. "Rp 95.000, nak" katanya.
boleh juga tuh, berapa harganya?" tanyaku. "Rp 95.000, nak" katanya.
"wow, mahal banget kek"
kataku kaget. "ya namanya juga buku best seller. Semua yang baca buku ini kabarnya syok loh waktu baca endingnya" si kakek promosi ala salesman. Aku pun mengalah, entah kenapa pada saat aku serahkan uang tersebut ke kakek, tiba tiba petir menggelegar.
Angin mulai bertiup kencang. Si kakek turun dari bis, namun tiba-tiba berhenti dan menolehkan wajahnya pelan pelan ke aku. "nak" ujarnya lirih "apapun yang terjadi harap jangan buka halamanterakhir. Kalau tidak nanti kamu akan menyesal dan saya tidak mau bertanggung jawab" peringatnya.
Jantungku berdegup kencang, saking takutnya aku sampai tidak mampu menganggukan kepala hingga si kakek turun dari bis dan menghilang ditelan kegelapan.
Pada saat tengah malam aku selesai membaca seluruh buku tersebut, kecuali halaman terakhir.
Memang benar seperti yang dikatakan si kakek buku itu benar-benar menegangkan
kataku kaget. "ya namanya juga buku best seller. Semua yang baca buku ini kabarnya syok loh waktu baca endingnya" si kakek promosi ala salesman. Aku pun mengalah, entah kenapa pada saat aku serahkan uang tersebut ke kakek, tiba tiba petir menggelegar.
Angin mulai bertiup kencang. Si kakek turun dari bis, namun tiba-tiba berhenti dan menolehkan wajahnya pelan pelan ke aku. "nak" ujarnya lirih "apapun yang terjadi harap jangan buka halamanterakhir. Kalau tidak nanti kamu akan menyesal dan saya tidak mau bertanggung jawab" peringatnya.
Jantungku berdegup kencang, saking takutnya aku sampai tidak mampu menganggukan kepala hingga si kakek turun dari bis dan menghilang ditelan kegelapan.
Pada saat tengah malam aku selesai membaca seluruh buku tersebut, kecuali halaman terakhir.
Memang benar seperti yang dikatakan si kakek buku itu benar-benar menegangkan
menyeramkan.Bis
melaju kencang, kilat menyambar bergantian, dan terdengar suara guruh
menggelegar. Aku melihat sekeliling ternyata semua penumpang sudah terlelap.
Bulu kuduk ku merinding. "baca halaman terakhir gak ya?" pikirku bimbang.
Bulu kuduk ku merinding. "baca halaman terakhir gak ya?" pikirku bimbang.
Antara penasaran dan takut berbaur jadi satu.
Di luar malam tampak makin gelap. "ah sudahlah, sekalian saja
nanggung",dengan tangan gemetar aku pun membuka halaman terakhir buku
tersebut secara perlahan. Setelah terbuka semuanya terdapat sebuah tulisan
darah "bangkitlah semua jiwa-jiwa yang ada disini" hanya
kata itu yang tertulis.Tiba-tiba hawa menjadi dingin dan mencekam. Terdengar suara geraman di seluruh bangku bus kecuali aku. Kulirik, semua penumpang berwajah pucat dan menatap marah padaku. Mereka menghampiriku. Secara bersamaan tangan-tangan dingin itu mencekik. Seketika semuanya gelap.
Aku merasakan jiwaku sangat ringan. Aku melihat tubuhku terbaring kaku di kursi. Di buku itu
terdapat tulisan baru "kini kamu telah menjadi bagian dari jiwa-jiwa di bis ini
kata itu yang tertulis.Tiba-tiba hawa menjadi dingin dan mencekam. Terdengar suara geraman di seluruh bangku bus kecuali aku. Kulirik, semua penumpang berwajah pucat dan menatap marah padaku. Mereka menghampiriku. Secara bersamaan tangan-tangan dingin itu mencekik. Seketika semuanya gelap.
Aku merasakan jiwaku sangat ringan. Aku melihat tubuhku terbaring kaku di kursi. Di buku itu
terdapat tulisan baru "kini kamu telah menjadi bagian dari jiwa-jiwa di bis ini
No comments:
Post a Comment