Saturday, 30 January 2016

misteri bangku kereta api



Misteri Bangku Kereta Api Nomor 13

Perjalanan jauh dengan kereta merupakan sebuah perjalanan yang penuh dengan petualangan. Banyak hal yang bisa kita dapat dari perjalanan jauh ini. Seperti halnya kisah perjalananku selama dua hari satu malam dengan Kereta Bima, Jakarta-Surabaya. Perjalanan kali ini, seperti halnya perjalanan-perjalanan sebelumnya, tak pernah ku sia-siakan hanya dengan melihat-lihat pemandangan lewat jendela ataupun tertidur sepenjang perjalanan. Ada suatu hal yang biasa kulakukan untuk mengisi perjalanan dengan kereta api yaitu dengan “mengobrol”. Mengobrol merupakan cara yang ampuh untuk mengusir rasa bosan dan juga baik untuk kesehatan terutama otot-otot muka guna menjaga keremajaan kulit dan elastisitasnya. Mengobrol hanya membutuhkan sedikit energi dengan sedikit cemilan dan sebotol softdrink lengkap sudah fasilitas untuk memulai suatu obrolan.
Sudah tiga puluh menit berlalu semenjak aku terduduk sendiri di bangku nomor 14 gerbong ketiga. Kulihat bangku nomor 15 yang terletak disebelahku belum juga terisi penumpang dan juga bangku nomor 13 dan 12 yang terletak di hadapanku kosong sama sekali. “Kalo begini gimana aku bisa dapat teman ngobrol?”.
“Ting…teng…ting…teng…lima menit lagi Kereta Bima akan segera diberangkatkan”, begitu bunyi pengumuman dan petugas stasiun. Kereta mulai penuh oleh para penumpang. Semua bangku telah terisi kecuali tiga buah bangku yang ada di dekatku, tak juga ada yang menempati. Sudah empat puluh menit aku menunggu teman seperjalananku, namun mungkin takdir berkata lain. Di perjalanan kereta kali ini, mungkin akan kulewatkan dengan tidur atau melihat-lihat pemandangan saja.
“Huaaaah…!!”, suasana ini membuatku mengantuk, mataku mulai berkaca-kaca. Tak terasa aku pun terlelap untuk beberapa waktu. “Roooeng…!!!”, “Hah, bunyi apa itu…?”, aku tersentak, dan bangun dari tidurku. Oh rupanya bunyi yang melengking itu hanyalah bunyi pertanda kereta akan segera diberangkatkan. Kereta pun mulai berangkat. “Huaaah…!!”, lagi-lagi meliuk-liukkan tubuhku, mencoba melemaskan semua otot-otot yang tadi kaku karena kugunakan tidur dalam keadaan duduk. Kini ngantukku serasa hilang dalam sekejap oleh getaran-getaran berirama yang ditimbulkan oleh roda-roda kereta. Kuperhatikan sekelilingku, nampaknya bangku nomor 12 dan 13 yang ada dihadapanku serta bangku nomor 15 yang terletak di sampingku memang tak ada yang menempatinya. Atau memang tak ada yang mau mendudukinya? Ah masa bodoh…
Tiba-tiba seorang wanita muda dengan tergesa-gesa berjalan sambil menyeret sebuah koper yang tampaknya cukup berat menuju ke arahku. Dia tampaknya butuh pertolongan. Pak kondektur pun menghampirinya. “Anda butuh pertolongan Nyonya?”, tegurnya dengan sopan. “Iya Pak, tolong saya Pak!”, ujar nyonya itu dengan nada setengah panik. “Maaf nyonya, bisa tolong tunjukkan tiket anda?”, ujar sang kondektur. “Ini pak, saya duduk di bangku nomor 13”, jawabnya dengan nafas terengah-engah. “Oh bangku nomor 13 ada di sebelah sini nyonya. Silahkan, anda bisa duduk dan tenangkan diri anda terlebih dahulu”, ujarku memotong pembicaraan mereka.
“Pak kondektur..anak saya pak…anak saya hilang di kereta ini”, ujar nyonya itu yang tampaknya tak menghiraukan perkataanku.Pak kondektur pun berkata lagi pada nyonya itu dengan lembut “Nyonya, anda bisa duduk dulu di bangku dan ceritakan semua kejadiannya pada kami.”
Mendengar hal itu kemudian si nyonya pun akhirnya duduk dan kemudian mulai mencoba menenangkan diri. Setelah merasa cukup tenang ia pun bercerita “Begini Pak Kondektur, aku naik ke kereta ini bersama anak laki-lakiku yang bernama Andi. Ketika kami tiba di stasiun, kereta hampir saja berangkat. Karena takut ketinggalan kereta aku pun menaikkan Andi terlebih dahulu kemudian aku turun lagi untuk membawa koper yang kutitipkan pada seorang penjual makanan yang menunggu di depan pintu masuk gerbong lima kereta ini. Sementara itu Andi ku suruh mencari tempat duduk nomor 13 dan 14 yang telah kami pesan. Saat itu para penumpang masuk secara berdesakkan, mungkin mereka juga tak ingin ketinggalan kereta. Bahkan ketika aku ingin masuk, hampir saja aku terdorong keluar oleh penumpang lain yang juga turut berdesak-desakkan. Dan sesampainya di dalam kereta aku mencari-cari Andi dan tidak menemukannya.”
“Oh begitu”, ujar kondektur manggut-manggut. “Ehm begini saja nyonya. Sekarang saya akan mencari anak nyonya dan nyonya silahkan tunggu di sini. Oh ya apakah nyonya yakin kalau anak nyonya sudah masuk ke dalam kereta ini?”, Tanya pak kondektur.
“Saya yakin pak. Anak saya tak mungkin keluar lagi, karena ketika kami masuk, para penumpang yang lain juga masuk bahkan hingga berdesak-desakkan sehingga tak mungkin ia bisa keluar.”, jelas nyonya itu.
“Oh ya, bagaimana ciri-ciri anak nyonya?”
“Hmm…anak saya memakai baju kemeja warna biru laut dan celana pendek warna hitam. Umurnya 10 tahun dan tingginya sekitar 150 cm. Ia berkaca mata dan rambutnya hitam lurus.”, jawab nyonya itu.
“Ya…cukup jelas, kami pasti menemukannya”, ujar sang kondektur meyakinkan nyonya itu.
Lima menit telah berlalu, namun si kondektur tadi tak juga kembali. Nyonya itu nampak masih gelisah sejak tadi, wajahnya memerah dipenuhi sejuta penyesalan.
“Maaf nyonya, mau permen?”, ujarku seraya menyodorkan lima bungkus permen cokelat yang tadi kubeli dari pedagang kaki lima.
“Hmm maaf…terima kasih”, ujarnya menolak.
“Tenang saja nyonya, tak perlu terlalu gelisah. Anak nyonya pasti ditemukan, mungkin saja dia tadi bingung dan tersesat di gerbong lain. Kereta ini kan hanya terdiri dari beberapa gerbong dan anak nyonya tak mungkin akan jauh-jauh pula dari sini’, ujarku mencoba menenangkannya.
“Oh ya, tujuan nyonya mau kemana?”
“Hmm….saya mau ke Surabaya, ke rumah kakak ipar saya untuk mengabarkan suatu hal”, jawab nyonya itu.
“Lalu suami anda…?”
“Dia baru saja wafat tiga hari yang lalu”
“Oh maaf nyonya…ehm saya turut berduka cita atas wafatnya suami nyonya.”
Waktu pun telah berlalu dua jam lamanya. Hari kini mulai beranjak sore, kereta api delapan gerbong yang kini kunaiki mulai menembus senja. Obrolanku dengan nyonya ini semakin menarik saja, dan nampaknya si nyonya mulai melupakan anaknya yang belum juga ditemukan.
Saat ini aku mulai tahu banyak tentang nyonya itu. Ternyata yang duduk di bangku nomor 12 adalah anaknya dan yang duduk di bangku nomor 15 yang ada disebelahku adalah suaminya yang kini telah wafat semenjak tiga hari yang lalu. Suaminya adalah seorang polisi lokal. Ia wafat karena tertembak ketika terjadi baku tembak dengan para perampok bank tiga hari yang lalu. Semula mereka bertiga memang hendak liburan ke rumah Nenek anak semata wayangnya di Surabaya. Kematian sang Ayah pada mulanya membuat rencana kepergian Si Nyonya dibatalkan. Namun karena si Nyonya kemudian mendapat kabar bahwa ibundanya di kampung halaman sedang sakit keras, dan dengan pertimbangan tiket yang sudah dipesan, jadilah mereka berdua memaksakan diri pergi ke Surabaya meskipun masih dalam suasana duka.
“Maaf nyonya apa makanan favoritmu?”, tanyaku.
“Hm…aku amat menyukai cokelat, suamiku dan anakku juga menyukainya. Cokelat sudah lama menjadi makanan favorit keluarga kami.”, jawabnya. “Kalau anda Tuan?”
“Hmm…aku juga suka cokelat, tapi terkadang aku juga suka permen dan juga kembang gula. Pokoknya semua makanan yang manis-manis aku menyukainya.”, jawabku.
Tiba-tiba si nyonya itu mengeluarkan sebuah kotak dari tas kecil yang diipangkunya. Dan ia membuka kotak itu. Ternyata isinya adalah cokelat.
“Anda mau cokelat, Tuan?”, ujarnya seraya menyodorkan kotak itu ke arahku.
Aku pun mengambil tiga bungkus cokelat dari kotak itu. “Hmm…terima kasih nyonya.”, ucapku seraya menaruh dua bungkus cokelat ke dalam saku kemejaku. Sementara yang sebungkus lagi kubuka dan kumasukkan ke dalam mulutku.
“Bagaimana rasanya, Tuan?”, Tanya nyonya itu.
“Hmm…sangat enak.”, jaawabku.
Nyonya itu cukup menarik untuk dijadikan teman ngobrol. Setelah sekian lama mengobrol tampaknya aku mulai suka padanya. Wanita itu lumayan cantik, wajahnya sangat ayu dengan bibirnya yang manis. Matanya juga indah. Rambutnya tergerai lurus sepinggang. Lama-lama aku merasa tertarik kepadanya. Hatiku mulai bertanya-tanya “Apakah aku telah jatuh cinta?’
Dalam sekejap kami menjadi lebih akrab. Rupanya si nyonya itu juga suka mengobrol sepertiku. Kami pun melanjutkan obrolan kami hingga lupa waktu.
Sejam kemudian. Pak kondektur datang mengantarkan seorang anak berambut lurus dan berkaca mata. “Oh anakku!”, si nyonya sejenak tersentak melihat anaknya, lalu memeluknya sambil menetesakan air mata. Ia baru ingat bahwa anaknya telah hilang di kereta beberapa jam yang lalu. Dengan perasaan bersalah ia pun memeluk anaknya erat-erat sambil menangis.
Aku dan pak kondektur hanya bisa memandang kedua anak dan ibu itu sambil tersenyum lega. Setelah itu si nyonya itu pun kemudian berterima kasih kepada pak kondektur.
“Maaf nyonya kami terlalu lama menemukan anak anda. Tampaknya anak anda tersesat di kereta ini dan kelelahan, lalu ia pun tertidur di dekat tumpukkan barang di pojok gerbong delapan. Tadinya kami tak mengira anak itu bersembunyi di sana. Namun, setelah kami berpikir bahwa tak ada salahnya memeriksa tumpukkan barang kami pun memeriksanya dan berhasil menemukan anak nyonya ini.”, jelas pak kondektur.
‘Tak apa-apa pak kondektur, yang penting saat ini anakku sudah di temukan. Terima kasih….pak…saya ucapkan beribu-ribu terima kasih.”, ujar nyonya itu.
“Tak apa nyonya, itu memang sudah tugas kami.”, ujar pak kondektur.
Tak lama kemudian suasana pun kembali tenang. Sang anak sudah duduk di bangkunya dan si nyonya kembali melanjutkan obrolannya denganku. Kami pun mengobrol cukup lama dan kuperhatikan, selama kami mengobrol, anak nyonya itu menatapku tajam ke arahku. Aku jadi sedikit salah tingkah.
Anak nyonya itu tampaknya tak suka kepadaku. Ia lalu menarik-narik ibunya dan membisikkan sesuatu ke telinga ibunya. Si nyonya manggut-manggut lalu berbicara lirih kepadaku “Tampaknya anakku tidak terlalu menyukaimu, maaf ya, harap di maklumi karena anakku baru saja kehilangan ayahnya. Jadi, ia tak begitu suka kalau ada lelaki lain yang mendekatiku.”
Aku pun manggut-manggut seraya mengerti apa yang dimaksud si nyonya itu. Aku pun bisa memahami perasaan mereka. “Hmmm….baiklah kalau begitu aku mohon diri sejenak, rasanya ingin aku berjalan-jalan ke gerbong lain. Lagi pula kakiku rasanya mulai kesemutan semenjak tadi duduk di bangku.”, ujarku pamit untuk pergi sejenak.
Sambil berjalan santai aku pun menelusuri gerbong-gerbong kereta sampai di ujung gerbong ke delapan yang terletak paling ujung, aku duduk di sebuah bangku kosong yang terletak di depan bagasi tempat barang-barang. Bangku-bangku di gerbong delapan nampaknya banyak yang kosong. Aku kemudian menatap keluar jendela sambil memandang bulan purnama yang membumbung tinggi di luar sana.
Tak terasa tiga puluh menit berlalu dengan cepatnya. Aku bangkit dari tempat duduk dan berjalan menuju bangku nomor 14, tempat dudukku yang semula, “Mungkin si anak tadi sudah lelap tertidur dan aku pun bisa ngobrol lagi dengan si nyonya tadi.”, pikirku.
Namun, sesampainya di bangkuku, yang ada hanya anak tadi yang masih terjaga. Kemudian aku pun duduk, dan memberanikan diri bertanya kepada anak itu. “Nak, dimana ibumu?”
“Mau apa kamu mencari-cari ibuku! Lagi pula apa urusanmu menanyakan dimana ia berada, toh kamu kan bukan ayahku!”, ucapnya kasar.
Hatiku bergetar mendengar perkataan anak kecil itu, sesaat aku menganggap anak ini kurang ajar, tapi mungkin ada benarnya juga. Walaupun aku suka kepada ibunya tapi kan ia sudah berkeluarga dan sulit bagi sebuah keluarga untuk dengan mudah kehilangan salah satu anggota keluarga yang dicintainya maupun dimasuki oleh orang yang baru mereka kenal. Aku dan anak itu pun terdiam beberapa lama kemudian anak itu tertidur pulas. Aku pun mulai mengantuk karena semenjak tadi hanya diam mengunci mulut. Akhirnya aku pun memejamkan mata dan tertidur pulas.
Beberapa saat kemudian terdengar lagi olehku deru roda-roda kereta yang berirama. Aku pun mulai membuka mataku lagi. Namun, kini di hadapanku duduk seorang pria gagah yang mengenakan sebuah kemeja putih dan bercelana cokelat. Rambutnya tampak klimis dan dia juga tampak lebih arif dengan kacamatanya. Aku mulai bingung, bukankah yang tadi duduk di hadapanku ini seorang nyonya dan anaknya. “Ah mungkin saja aku sedang bermimpi.”, batinku.
Aku pun berkenalan dengan pria itu, namanya Andi. Persis seperti nama anak kecil yang kutemui dalam mimpiku tadi. Dan kami pun mengobrol tentang segala hal. Andi mulai terbawa pembicaraan. Begitu pula denganku. Kami saling berbagi pengalaman, berbagi cerita dan juga berbagi alamat dan nomor telepon.
“Oh ya, Tuan. Maukah engkau kuceritakan sebuah kisah menarik saat aku berumur 10 tahun?”, Tanya Andi. “Oh tentu saja.”, jawabku. “Baiklah, akan kuceritakan.”, Andi pun bercerita tentang pengalamannya ketika ia berusia 10 tahun. Ketika itu ia tersesat di gerbong kereta dan tidur di bagasi barang. Dan saat ditemukan dan di bawa oleh kondektur menemui ibunya, ia mendapati ibunya sedang asyik mengobrol dengan seorang pria yang tak ia kenal dan ia pun akhirnya merasa cemburu karena belum lama ayahnya meninggal. Ia tak ingin punya ayah yang baru karena ia amat mencintai ayahnya. Andi menyuruh ibunya agar berhenti ngobrol dengan lelaki itu dan menyuruhnya pergi. Lalu sesudah lelaki itu pergi, Andi bertengkar dengan ibunya sehingga ibunya kesal dan akhirnya pergi untuk pindah gerbong. Ketika ibunya telah pergi, lelaki yang semenjak tadi mengobrol dengan ibunya datang kembali dan menanyakan tentang keberadaan ibunya. Adi menjawab dengan nada ketus “Mau apa kamu mencari-cari ibuku! Lagi pula apa urusanmu menanyakan di mana ia berada, toh kamu kan bukan ayahku!”
“Aku merasa bersalah dengan perbuatanku terhadap lelaki itu dan ingin rasanya aku memohon maaf atas sikap kasarku dulu kepadanya.”, Andi menutup ceritanya.
“Lalu dimana ibumu saat ini?”, tanyaku.
“Ibuku pindah gerbong dan ternyata ia pindah ke gerbong belakang. Beberapa saat setelah aku tertidur aku merasa aneh dan beranjak dari tempat dudukku. Tiba-tiba terjadi tabrakan antara kereta yang kutumpangi dengan kereta lain. Saat itu aku berada di gerbong tiga dan selamat sedangkan ibuku rupanya tewas karena ia pindah ke gerbong belakang yang hancur akibat tabrakan itu. Aku amat menyesal seandainya saja aku membiarkan ibuku tetap mengobrol dengan pria itu mungkin ibuku tak akan pindah gerbong dan menyusul ayahku ke alam baka.”, Andi menjelaskan panjang lebar untuk kesekian kalinya.
“Oh, aku turut bersedih atas pengalamanmu yang amat menyedihkan.”, ujarku bersimpati. Dalam hati aku berfikir mungkinkah aku melenggang ke masa lalu selama aku tertidur, ataukah mimpi itu hanya kebetulan saja.
“Hmm…boleh aku tanya sesuatu?”, tanyaku.
“Oh ya, silahkan.”, jawab Andi.
“Hmm…aku ingin tahu, saat kau terbangun….sebelum kecelakaan itu..kau tahu dimana pria yang duduk dihadapanmu?”, tanyaku lagi.
“Kurasa ia pergi ke gerbong lain saat aku tertidur, yang jelas aku tidak menemukannya saat aku terbangun.”
Seribu satu tanda tanya mulai memusar di dadaku. Apakah benar pria yang ada di masa lalu itu adalah aku? Sesaat aku masih ingat senyuman nyonya yang tadi duduk di bangku nomor 13 dan mengobrol denganku sambil menunggu anaknya ditemukan hatiku mulai gundah, tak mungkin ini suatu kebetulan…tapi bagaimana bisa?
“Maaf, Tuan. Apa kau suka berjalan-jalan dengan kereta?”, Andi tiba-tiba memotong lamunanku.
“Oh…eh…iya…tentu saja…”, jawabku gugup.
“Selama hidupku aku merasa dihantui perasaan bersalah terhadap pria yang kucaci maki 10 tahun lalu. Setiap aku bepergian naik kereta aku selalu memesan bangku nomor 13 tempat dahulu ibuku duduk sebelum ia pergi untuk selama-lamanya. Dan aku juga selalu menceritakan kisah ini kepada setiap orang yang duduk di bangku nomor 12, 14 dan 15. aku juga selalu berpesan kepada semua orang yang kuceritakan tentang kisah ini untuk menyampaikan permohonan maafku yang sebesar-besarnya untuk pria yang 10 tahun lalu kucaci maki. Ibu dan ayahku di sana pasti tak suka memaafkanku jikalau permohonan maaf ini tak sampai kepada pria itu. Maukah Tuan membantuku?”, pinta Andi.
“Baiklah aku akan membantumu. Dan aku yakin pria itu pasti sudah memaafkanmu, karena dulu umurmu kan masih 10 tahun.”, ujarku menghibur Andi.
“Saat ini pasti pria itu sudah berumur sekitar 40 tahun dan mungkin dia sudah punya istri dan anak.”, ujar Andi.
Kereta pun terus melaju, hingga akhirnya tiba di kota Surabaya. Aku dan Andi pun turun di salah satu stasiun di Kota Pahlawan itu. Dari sana kami berpisah menuju ke tempat tujuan kami masing-masing. Walaupun kami sudah berpisah masih saja aku memikirkan serentetan peristiwa yang kutemui di kereta tadi. Semenjak saat itu aku pun mulai berjanji, aku tak akan banyak ngobrol selama perjalanan dengan kereta. Aku juga nggak bakal lagi-lagi tertidur di bangku kereta. Mungkin aku bisa mengusir kebosanan dalam perjalanan dengan membaca-baca buku sambil minum kopi, atau melihat-lihat pemandangan sepanjang perjalanan.
Tapi “Ops…!”, tak kusadari kedua ikatan tali sepatuku terlepas, aku pun berjongkok untuk menalikannya kembali. Namun saat aku berjongkok, “Pluk…!!”, dua bungkus cokelat jatuh dari sakuku. Aku mulai berfikir dari mana cokelat-cokelat ini, aku merasa tak pernah membeli cokelat sepanjang perjalanan. “Ah….aneh-aneh saja yang terjadi hari ini

Friday, 29 January 2016

misteri kamar mandi di sekolah ku



Misteri kamar mandi sekolah

Namaku irwan, aku bersekolah di salah satu SMA Swasta di kota jogja. Sekarang aku beranjak naik ke kelas 2, selama kurang satu tahun lebih aku bersekolah disana akhirnya aku tahu cerita yang tersimpan di balik kelasku ini. Ada yang bilang kalo sekolahku ini dijuluki sekolah paling seram di kota jogja, karena ini juga sekolahku ini adalah tempat persimpangan makhluk halus.
Awalnya aku tidak begitu percaya sampai aku mengalaminya sendiri. Sekitar jam 5 sore aku masih latihan basket di lapangan sekolah, karena minggu depan akan ada turnamen antara SMA. Jadi sampai saat ini anak-anak basket latihan lebih lama daripada biasanya.
Akhirnya sampai juga “Bro, aku ke kamar mandi duluan ya”, kataku kepada teman-temanku. Aku berjalan tenang melewati lorong kelas yang sudah tampak gelap dan sepi. Setibanya di kamar mandi, aku gantungkan tas ku dan mulai mandi. Beberapa saat ketika aku mandi, tiba-tiba saja lampu kamar mandinya mati. Aku berhenti menyiram tubuhku dan mulai mendekatkan telingaku ke pintu, dengan harapan aku tahu siapa orang yang mematikan lampu kamar mandi ini.
Beberapa saat aku terdiam, ternyata tidak ada suara teman-temanku. Aku membuka sedikit pintu kamar mandi untuk melihat keadaan diluar dan ternyata keadaan diluar pun sama gelapnya. Aku mulai menutup kembali pintu lalu memakai baju, aku berpikir jika aku teruskan mandi sudah tidak kondusif lagi.
Ketika aku sudah memakai bajuku, aku menggeserkan tubuhku sedikit ke kanan dan aku menginjak sesuatu. Ini seperti kaki seseorang, lalu aku mulai mundur beberapa langkah menuju tembok. Dan di dalam kegelapan itu aku seperti merasakan ada seseorang bersamaku. Aku segera mengambil tas yang aku gantungkan di belakang pintu, karena panik aku pun terjatuh. Aku mulai membungkukan badanku meraba-raba mencari tasku. Tiba-tiba aku mendengar suara yang sedang bernafas, jelas sekali itu bukan suara nafasku.
Hembusan nafas itu sangat kuat, dan badanku mulai merinding. Keringat dingin mulai bercucuran di keningku, tanpa pikir panjang aku ingin segera keluar dari sini. Aku mencari gagang pintu yang ada di sisi kiriku, namun pintu kamar mandinya susah terbuka. Dan dibelakangku terasa sebuah angin dingin yang berhembus, seperti meniupi pundak ku.
Suara hembusan nafas ini membuatku sangat takut, aku memberanikan diri membalikan tubuhku dan tidak ada siapa-siapa. Jantungku kini semakin berdegup kencang, aku ingin berteriak memanggil teman-temanku namun aku tidak bisa. Tubuhku sekarang menjadi kaku, badanku sama sekali tidak bisa digerakan dan tiba-tiba ada sesuatu yang bergerak-gerak di atas kepalaku.
Sekarang aku merasakan ada sesuatu yang menyentuh rambutku. Sedikit demi sedikit dan kali ini teksturnya mulai terasa. Ini adalah rambut, sebuah rambut yang sangat panjang dan menutupi wajahku. Sekuat tenaga aku berusaha memberontak, namun seperti ada yang memeluk dari belakang dengan sangat keras. Aku semakin tidak bisa bergerak, dan nafasku tidak bisa berjalan dengan lancar. Dan kali ini suara hembusan nafas itu terdengar jelas dari atas kepalaku.
Aku mulai membaca doa di dalam hati, sambil mengingat doa-doa yang aku hapal. Namun sulit sekali untuk mengeluarkan suara sampai akhirnya aku bisa bergerak dan ketika aku lihat ke atas. Aku melihat sebuah wajah dengan mata yang sangat merah. Hanya beberapa detik saja aku melihat sosok itu dan tidak lama sosok itu menghilang.
Badanku yang kaku sudah bisa aku gerakan, dan aku segera berlari keluar. Di depan aku bertemu dengan teman-temanku yang sudah menunggu di pos satpam. Aku segera menceritakan kejadian tadi kepada teman-temanku, dan temanku pada kaget. Lalu ceritaku ditanggapi oleh seorang satpam yang mengatakan bahwa aku memang salah. Aku salah karena sudah memakai kamar mandi itu, konon sejak dulu daerah kamar mandi itu memang angker. Makanya setiap malam lampu dimatikan agar tidak ada yang pergi kesana.
Satpam itu lanjut berkata, dia tidak tahu kalo aku lagi ada disana. Karena saat tadi dia lewat, semua pintu kamar mandi terbuka dan kosong. Aneh, padahal jelas sekali tadi aku ada didalam salah satu kamar mandi itu

tersesat di kehidupan lain



Tersesat di kehidupan lain
Meskipun kau tidak bisa melihatnya, tapi bukan berarti mereka tidak bisa melihatmu, mungkin setiap saat mereka mengawasimu.”
Masalah, hidup memang tak pernah lepas dari yang namanya masalah. Mencoba terlepas dari semua itu, liburan semester kali ini aku memutuskan untuk berlibur ke villa Ayahku di salah satu kota yang memang cukup terpencil. Tapi, justru tempat seperti itulah yang aku inginkan, alam, udara segar, kedamaian pasti akan ku dapatkan di sana. Pergi sendirian ke sana tentu bukanlah salah satu keputusan yang baik meski aku memang ingin menyendiri. Akhirnya ku ajak kedua temanku berlibur ke sana. sandra dan ayu pun tentu tak punya alasan untuk menolak kesempatan liburan itu.
Sore itu, kami segera berangkat ke sana, aku sendiri yang menyetir mobil karena tak sabar ingin segera tiba di sana. Sepanjang jalan, ku perhatikan sandra dan ayu asyik bercanda tawa, sambil ngemil makanan bawaan mereka. Sementara aku, terkadang hanya tersungging kecil mendengar ocehan-ocehan mereka. Setelah kurang lebih 4 jam perjalanan, akhirnya kami tiba di villa itu. “Wah udah sampai ya vin?” tanya sandra langsung loncat dari kursi mobil belakang. Aku hanya mengangguk-angguk mengiyakannya.
“Kereeennn.” Timpal ayu kemudian, sambil berjalan mendekati villa Ayahku itu.
“Neng? Kenapa tidak bilang dulu mau ke sini?” Suara seorang lelaki setengah baya terdengar sudah tidak asing di telingaku. “Gak apa-apa Pak amin, lagian ini emang dadakan kok.” jawabku sekenanya.
“Baik-baik kalau begitu, ayo silahkan masuk Neng.” katanya sambil berjalan cepat di depan kami.
“Pak, kami mau tinggal agak lama di sini.” kataku menambahkan.
“Oh iya-iya neng, nanti setiap hari Bapak ke sini, takut-takutnya Neng ada perlu.” ia tersenyum, sehingga tampak gigi depannya yang sudah ompong itu.

Aku menempati kamar yang biasa ku tempati saat berlibur ke sini. Sementara sandra dan ayu memilih kamar tamu, tepat di sebelah kamarku. Terakhir kali aku datang ke sini, adalah sekitar lima tahun yang lalu, sebelum Ayah dan Ibuku memilih untuk berpisah, dan hidupku jadi berantakan. Ku rasa villa ini sudah banyak berubah, tapi mungkin itu hanya perasaanku saja karena sudah lama tak berkunjung ke sini. Malam itu, sandra dan ayu ku dengar masih asyik di kamar mereka, sementara aku memilih duduk di ruang tengah untuk menonton televisi. Gambar-gambar itu mulai terlihat jelas di kotak persegi panjang itu, sebenarnya aku tidak terlalu memperhatikannya, tetapi aku mampu menangkap dengan jelas percakapan-percakapan yang mereka ucapkan di sana.
“Kreeeettt.” Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Awalnya aku tak mempedulikannya, ku kira itu sandra atau ayu, tapi… “Kreeetttt.” kembali ku dengar suara itu.
“sandra? ayu?” suaraku memanggil. Tapi tak ada respon sama sekali. Aku beranikan diri untuk melihatnya. Aku berjalan perlahan menuju arah dapur, tiba-tiba…
“Aaahhhh… sial cuma kucing.” gerutuku kesal. “Aaaaahhh…” terdengar suara teriakan dari kamar sandra dan ayu. Aku langsung berlari menghampirinya. “Ada apa?” ku lihat ayu benar-benar ketakutan, wajahnya putih pucat, bibirnya terlihat gemetaran. Sementara itu, tak ku temukan sandra di sana.
“Hei ayu, ada apa? Di mana sandra?” Ucapku mengguncang tubuhnya yang seolah tak sadarkan diri.

Ia masih menatap ke arah cermin besar yang ada di sana, tanpa sepatah kata pun yang ia ucapkan padaku. Tanpa pikir panjang, aku langsung berlari mencari sandra ke seluruh ruangan. Tapi nihil, tak ku temukan sandra di mana pun. Kembali aku berlari menuju kamar ayu, sesosok wanita berbaju putih panjang dengan rambut tak beraturan, terlihat berdiri di hadapan ayu, sementara ayu ku lihat semakin memucat dengan tatapan melotot.
“Hei, siapa kamu?” ucapku membentak.
Perlahan ia berbalik ke arahku, lalu, “Aaaaaaaaahh…” Semuanya berubah menjadi hitam dan gelap, aku berada di sebuah tempat yang sama sekali tak ku kenal. “Hutan?” Pikirku mencoba melihat dengan jelas daerah sekelilingku. Aku terus berjalan, tanpa harus tahu ke mana sebenarnya langkahku. Tiba-tiba, ku dengar suara seseorang, aku berlari-lari mencari arah suara itu. Ku lihat sebuah rumah kayu, di sela-sela bilik itu, aku melihat beberapa orang wanita, yang salah satunya adalah sandra, perempuan berambut panjang itu tampak ada di sana.
“Aaaaaahhh..” teriak seorang wanita, dengan berlumuran darah, wanita itu tergeletak di tanah, ku lihat lehernya hampir putus, sementara wanita lain terus menjerit ketakutan. Aku tak percaya dengan apa yang sebenarnya ku lihat, berusaha menahan suaraku agar tidak berteriak. “sandra? Tak boleh, aku harus menyelamatkannya.” pikirku. Tak ku pungkiri aku ketakutan, seluruh tubuhku gemetaran, bahkan kakiku hampir tak mampu menopang tubuhku. Aku terasa dibuat gila dengan kejadian yang sama sekali tak bisa ku pahami.
“Pergi kamu, pergi!” Suara ayu seakan membuyarkan lamunanku, ku lihat wanita itu mulai mendekati sandra dan membawa golok panjang berlumuran darah yang ia gunakan untuk memenggal kepala wanita sebelumnya.

“Jangaaannn!!!” aku refleks berteriak melihat ia hampir saja menebas leher sandra. Seketika ia menoleh ke arahku. Aku berusaha lari darinya, dengan napas tak karuan aku berlari ke mana pun kakiku melangkah. “Aaaahhh.” ia sudah berdiri tepat di hadapanku. “Kamu harus mati!” Ucapnya, matanya melotot menatapku seperti hampir ke luar.
“Si… siapa kamu?” Aku berusaha menjauh.
“Kamu harus mati!” ucapnya kembali. “Apa salahku, kenapa kau menyakiti semua wanita itu, dan ingin membunuhku?” Suaraku membentak meski terdengar begitu gemetaran.

Lalu, aku seperti dibawa menjelajah waktu, di sana ku lihat beberapa orang pria, dan seorang wanita. “Wanita ini akan berbahaya, kalau sampai dia buka mulut, kita semua bisa masuk penjara.” kata salah seorang pria di sana. Salah satu di antara pria itu adalah Ayahnya sandra. Di balik semak-semak ku lihat salah seorang pria.
“Itu Ayah.” ucapku. “Kita bunuh saja dia.” ucap pria yang lain.
“Tolong jangan, saya janji tidak akan memberitahu siapa pun!” wanita itu menangis.

Lalu salah seorang pria mengambil golok panjang dan menebas lehernya hingga hampir putus, mereka lalu meninggalkan wanita itu di dekat pohon besar, dan aahhh aku segera sadar dari apa yang ku alami barusan. “Hutan ini? Tempat ini?” Aku memperhatikan sekelilingku. Aku langsung berlari mencari pohon besar itu, wanita itu terus mengikuti langkahku. “Aaaahhhh.” aku terjatuh dan ku lihat ia sudah di depanku siap menebas leherku dengan golok itu.
Rasa perih menjalar di sekujur tubuhku, kaki dan tanganku terluka karena terkena ranting, aku berusaha bangkit dan ku temukan pohon itu. Terlihat beberapa tulang, berserakan di sana, aku berusaha menggali tanah. “Berhenti! Akan ku kuburkan kau dengan layak! Aku mohon hentikan semua ini!” ucapku. Tapi, dia terus berjalan mendekatiku.
“Aaaaahhh…” Entah apa yang terjadi aku terbangun di gubuk tua itu. Ku cium bau amis di sekelilingnya.
“sandra?” ucapku melihat dia tergeletak berlumuran darah dengan kepala yang terpisah dari tubuhnya. Begitu pun dengan wanita lainnya yang kemarin ku lihat.

Tubuhku terikat oleh ranting kayu. “Aku juga akan mati?” pikirku. perlahan ku lihat pintu itu terbuka, dan sosok wanita itu muncul mendekatiku.
Saking takutnya Aku berteriak sekeras-kerasnya..disaat ketakutan sedang melanda aku tiba-tiba bahu ku serasa ada yang menepuk-nepuk.dan aku pun tersadar ternyata yanga ada di hadapan aku adalah sandra dan ayu..
Mereka membangunkan aku karena katanya aku menjerit-jerit seperti orang kesurupan,keesokan harinya aku menceritakan semuanya tentang kejadian semalam pada sandra dan ayu...Dan mereka ber dua pun merasakan seperti apa yang ku alami semalam...akhirnya kami ber 3 sepakat untuk pulang tanpa berpamitan sama pa amin penjaga villa.....

pengalaman mistis di kos'an



Pengalaman mistis di kos-kosan

Cerita ini benar-benar kisah nyata adanya dan tidak saya buat-buat, kejadian ini terjadi pada akhir tahun 2009 Pada waktu itu saya dan istri saya mencari kos-kosan yang ada di jakarta, dan kebetulan pada waktu itu saya dapat kos-kosan yang berada di dekat kuburan dan sungai.

Setelah dapat kesepalatan untuk ambil kos-kosan tersebut saya dan istri saya bergegas pulang, ditengah perjalanan kami bertemu dengan seorang nenek tua dan ia pun bertanya kepada kami. " nak apa kalian barusan cari kos-kosan yach ?" saya jawab " iya nek" lanjut nenek tersebut bertanya lagi " kos-kosannya nomor berapa?" saya jawab " nomor 3 nek, emang ada apa sih nek? Jawabku dengan penuh tanda tanya.

 Lalu nenek itu bercerita tentang kamar kos nomor 3 tersebut. " begini nak dulu itu ada seorang perempuam yang tinggal di kamar kos nomor 3, pada waktu itu perempuan itu melahirkan dan di tolong oleh seorang perempuan berbaju dan berkerudung putih. Disaat bayinya keluar maka bayi dan orang perempuan yang berbaju putih itu menghilang sampai sekarang.

Setelah itu kami putuskan tetap tinggal di kamar kos nomor 3. Hari berganti hari bulan berganti bulan tidak ada yang aneh kami hidup di kamar nomor 3 tersebut. Namun menginjak kehamilan istri saya yang ke sembilan, saya mengalami sesuatu yang aneh dan menakutkan.

Ketika itu jam menunjukkan pukul 00.30 tengah malam, saya terjaga dari tidur dan tiba tiba pintu kamar terbuka perlahan lahan. Alangkah terkejutnya sewaktu saya melirik kesebelah kiri pas di samping kepala saya, terlihat sesosok mahluk manusia tinggi besar dengan kulit kering keriput seperti mummi. Betisnya pun setinggi 1 meter dan kepalanya sampai ke atap plafon, saya tidak bisa bergerak tidak bisa berbicara baik lisan maupun hati saya terdiam bagai di bungkam tanpa bisa berbuat apa2.

Saya melirik ke kanan yang istri saya masih tertidur pulas dengan perut membuncit karena hamil yang sudah menginjak 9 bulan. Hati dan mulutku mau berdoa tapi tidak bisa.
Dengan kepanikan tersebut saya teringat oleh kata kata kiyai saya, kalau menghadapi hal seperti itu harus tenang dan baca ayat2 alqur'an yang pernah di ajarkannya.

Lalu kupejamkan mataku dan konsentrasi menenangkan diri dan tiba tiba badan terasa kesemutan. Disaat itu saya bisa membaca ayat2 alqur'an yang di ajarkan pak kyai, lalu kugerakkan tanganku kearah makhluk halus tersebut tepat mengenai lututnya dan alangkah terkejutnya ternyata kulit makhluk halus itu keras dan kasar seperti kulit kayu cemara, dan kuremas lututnya dan ku bertakbir "Allahu akbar" maka makhluk halus tersebut hilang.

Semenjak kejadian itu saya pindah dari kos-kosan tersebut. Sampai sekarang saya masih berfikir apakah makhluk tersebut yang menunggu kelahiran bayi saya? Diakah yang menjelma jadi seorang perempuan dan menolong wanita yang melahirkan pada waktu itu?